Eksepsi Diajukan, Amel Sabara Pertahankan Tidak Ada Perintangan Penyidikan

SULTRA PERDETIK, – Amel Sabara (AS), tersangka dalam kasus dugaan perintangan proses penyidikan atau obstruction of justice dalam kasus korupsi tambang di Wilayah Izin Usaha (WIUP) PT Antam, Blok Mandiodo, Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), telah mengajukan eksepsi dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas I Kendari pada Kamis, 21 September 2023.

Kuasa hukum AS, Choerul Moeslim J, mengumumkan bahwa mereka akan mengajukan eksepsi sebagai respons terhadap dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Sultra.

Bacaan Lainnya

Menurut Kuasa Hukum AS, dakwaan JPU tidak mencerminkan fakta persidangan dan tidak sesuai dengan yang tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Dalam dakwaan JPU, AS dituduh melakukan perintangan terhadap proses penyidikan kasus dugaan korupsi tambang yang melibatkan Direktur PT Kabaena Kromit Pratama (KKP), Andi Andriansyah (AA).

Namun, Kuasa Hukum AS membantah bahwa kliennya pernah menemui dua Jaksa di Kejati Sultra sebagaimana yang disebutkan oleh JPU. Menurut BAP AS, kunjungannya ke Kejati Sultra adalah untuk mengantarkan tersangka AA menyerahkan diri pasca masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejati Sultra.

Lebih lanjut, tim kuasa hukum AS juga mencoba meluruskan beberapa pernyataan yang tidak benar dalam dakwaan JPU.

Mereka menjelaskan bahwa AS tidak pernah menjadi orang pertama yang menemui istri AA, Jecklin, untuk menawarkan bantuan agar AA bisa bebas dari jeratan hukum.

Faktanya, AA dan istrinya datang menemui AS pada Juli 2023 untuk meminta bantuan, tetapi AS hanya menyarankan agar AA menyerahkan diri dan akan membantu mencarikan pendamping hukum.

Sebelumnya, AS telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejati Sultra atas dugaan perintangan proses penyidikan dalam kasus korupsi tambang yang sedang diselidiki oleh kejaksaan.

Kasus ini terungkap setelah istri Direktur PT KKP melaporkan AS karena merasa telah dibohongi olehnya yang mengklaim akan mengurus pencabutan status tersangka AA dengan bertemu pimpinan Kejaksaan di Kejagung maupun di Kejati Sultra.

Namun, AS gagal menemui pimpinan Kejaksaan, meskipun telah menerima uang senilai Rp6 miliar dari pihak PT KKP sebagai harapan untuk mengusahakan pembebasan AA dari jeratan hukum.

Kasus ini akan terus bergulir dalam persidangan untuk menentukan nasib Amel Sabara. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *